SUKABUMIANNEWS.ID – Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali berdampak serius bagi warga di wilayah pesisir Jawa Barat. Setelah melontarkan kolom abu tebal dalam beberapa hari terakhir, abu vulkanik kini dilaporkan telah mencapai wilayah Kabupaten Sukabumi, menyebabkan gangguan kesehatan dan kepanikan di kalangan warga.

Hujan abu tipis yang melanda sejumlah kecamatan di Sukabumi sejak dini hari tadi membuat pemandangan menjadi kelabu. Abu halus berwarna abu-abu menutupi atap rumah, tanaman, dan yang paling parah, mengotori kendaraan yang diparkir di luar ruangan.
“Tadi pagi mau berangkat kerja, motor dan mobil sudah putih semua kena abu. Tebal sekali, kalau dipegang terasa kasar,” ujar seorang warga Palabuhanratu, Sukabumi.
Dampak Mata Pedih dan Gangguan Pernapasan
Warga yang harus beraktivitas di luar rumah paling merasakan dampaknya. Abu vulkanik yang mengandung partikel silika tajam sangat iritatif jika terkena mata.
“Waktu di jalan, meskipun pakai helm, mata rasanya perih sekali. Perih dan terus keluar air mata. Susah buat melihat jalan,” keluh seorang pengendara motor.
Tak hanya mata, abu halus yang terhirup juga mulai memicu gangguan pernapasan. Beberapa warga, terutama anak-anak dan lansia, mulai mengeluhkan batuk dan sesak napas.
Himbauan Darurat BPBD Sukabumi
Menanggapi situasi ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi langsung mengeluarkan Himbauan Darurat. Melalui selebaran digital dan pengumuman di radio, BPBD mengingatkan masyarakat akan bahaya abu vulkanik bagi kesehatan.
Dalam himbauannya, BPBD menekankan tiga dampak utama abu vulkanik:
-
Iritasi Mata: Partikel tajam dapat menyebabkan mata pedih, berair, kemerahan, dan rasa panas.
-
Gangguan Pernapasan (ISPA): Menghirup abu dapat memicu batuk, sesak dada, dan memperparah penderita asma.
-
Iritasi Kulit: Dapat menyebabkan gatal-gatal pada kulit sensitif.
BPBD meminta seluruh masyarakat Sukabumi untuk tetap tenang namun waspada. Warga sangat disarankan untuk:
-
Membatasi aktivitas di luar rumah.
-
Menggunakan masker dan kacamata pelindung (googles) jika terpaksa keluar.
-
Menutup rapat tempat penyimpanan air dan makanan.
-
Membersihkan abu dari kendaraan dan teras dengan hati-hati menggunakan air agar tidak terbang kembali.
“Kami terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memantau pergerakan abu dan menyiapkan langkah antisipasi lebih lanjut, termasuk distribusi masker kepada warga terdampak,” pungkas pihak BPBD dalam rilis resminya.
Letusan Gunung Anak Krakatau sendiri dilaporkan masih berlangsung dan dipantau ketat oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Warga Sukabumi diharapkan terus mengikuti perkembangan informasi resmi agar tidak termakan isu yang tidak benar.
(DD)


















