SUKABUMIANNEWS.ID – Jajaran Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi menegaskan komitmennya untuk tidak setengah-setengah dalam memerangi penyakit Tuberculosis (TBC). Menyadari bahwa penanganan medis saja tidak cukup, Dinkes mengambil langkah strategis dengan memperkuat kemitraan lintas sektor. Strategi ini ditujukan untuk menciptakan solusi komprehensif, mencakup aspek kesehatan hingga sosial-ekonomi bagi para penderita.
Dalam sebuah acara krusial bertajuk “Akselerasi Pengendalian Penyakit Melalui Kemitraan Strategis” dan “Peluncuran Rabies Center,” yang digelar di Hotel Permata Hijau pada 24 Juni 2026, Dinkes memaparkan visi baru ini di hadapan berbagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan mitra strategis lainnya. Sebuah momen penting dari acara tersebut diabadikan dalam foto, yang menunjukkan sinergi kuat antara jajaran Pemkot Sukabumi dan berbagai mitra dalam upaya bersama ini.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Sukabumi, Denna Yuliavina, menjelaskan bahwa tahun ini pihaknya menargetkan deteksi kasus melalui screening kesehatan kepada 2.600 orang terduga TBC. Hingga awal Juni 2026, Dinkes telah berhasil menemukan dan mengonfirmasi 1.406 kasus TBC. Angka ini menandakan capaian lebih dari separuh target, sebuah langkah maju yang signifikan namun sekaligus menyiratkan masih adanya tantangan besar di lapangan.
Denna menekankan bahwa TBC bukanlah penyakit yang bisa diselesaikan oleh Dinkes sendirian. Masalah TBC seringkali berakar pada masalah lingkungan dan kesejahteraan, yang melampaui ranah medis.
“Hari ini kami melakukan akselerasi kemitraan strategis, dengan mengundang SKPD, dan juga mitra strategis lainnya. Harapannya dengan peran mereka, penanganan TBC ini akan bergerak dari hulu ke hilir, karena tidak hanya kesehatan itu berurusan dengan obat dan perawatan, tapi perlu dukungan lainnya,” tandas Denna.
Dukungan yang dimaksud mencakup hal-hal yang tak kalah penting dari obat-obatan, yaitu:
-
Infrastruktur Berkualitas: Terutama rumah sehat untuk pasien TBC. Rumah dengan ventilasi dan sanitasi yang buruk dapat memperparah kondisi dan mempercepat penularan. Keterlibatan dinas-dinas terkait infrastruktur sangat krusial di sini.
-
Dukungan Gizi: Pasien TBC membutuhkan asupan nutrisi yang cukup untuk memperkuat imun mereka. Dukungan gizi lintas sektor akan membantu memastikan pasien memiliki kekuatan untuk berjuang melawan penyakit.
Pendekatan holistic ini—mengatasi masalah dari akar (hulu) hingga ke tahap pemulihan (hilir)—diharapkan tidak hanya menyembuhkan pasien tetapi juga memutus mata rantai penularan di masyarakat. Kerja sama lintas sektor ini menjadi sinyal positif bahwa Kota Sukabumi serius dan bersatu dalam mewujudkan masyarakat yang bebas dari TBC.
Peluncuran Rabies Center dalam acara yang sama juga semakin menegaskan fokus Dinkes dalam penguatan sistem kesehatan publik di berbagai front. Namun, komitmen baru dalam penanggulangan TBC ini menjadi sorotan, menjanjikan pendekatan yang lebih berperikemanusiaan dan berdampak luas.
(DD)


















