SUKABUMIANNEWS.ID – Wakil Bupati Sukabumi H. Andreas menghadiri puncak acara Seren Taun Kasepuhan Girijaya ‘Sedekah Bumi Seren Taun Nampa Taun Mapag Taun Muharram 1448 H’ yang berlangsung di Kasepuhan Girijaya, Desa Girijaya, Kecamatan Cidahu, Minggu, 5 Juli 2026. Momentum Seren Taun ini bertepatan dengan pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H.

Seren Taun sendiri merupakan wujud rasa syukur yang mendalam kepada Sang Pencipta atas segala limpahan rezeki, sekaligus memohon keselamatan dan keberkahan di tahun yang akan datang. Dalam sambutannya, Wakil Bupati Andreas menyampaikan apresiasi atas keteguhan, konsistensi, dan wujud kecintaan masyarakat adat Kasepuhan Girijaya dalam melestarikan warisan budaya leluhur di tengah arus modernisasi dan kemajuan teknologi.
“Pemerintah Kabupaten Sukabumi mendukung penuh pelaksanaan Seren Taun ini. Ini merupakan bukti nyata pelestarian budaya yang harus kita jaga bersama-sama. Generasi muda atau incu putu, sudah sepatutnya untuk terus menjaga dan melestarikan adat istiadat ini agar tidak tergerus zaman,” ujar Wakil Bupati Andreas.
Camat Cidahu Tamtam Alamsyah menambahkan, kegiatan Seren Taun ini merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan di Kampung Adat Girijaya sejak tahun 1827. “Seren Taun di Kasepuhan Girijaya tahun 2026 ini merupakan yang ke-199 tahun. Selain itu, Desa Girijaya termasuk salah satu desa wisata yang sudah ditetapkan dengan Surat Keputusan Bupati, dimana desa Girijaya memiliki empat lokasi wisata salah satunya Kampung Adat Girijaya,” jelas Tamtam.
Prosesi Seren Taun diisi dengan kegiatan bakti sedekah bumi, gotong royong, dan kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan alam. Acara ini dihadiri oleh pengunjung dari berbagai daerah seperti Provinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Purwakarta, Bogor, dan daerah lainnya. Turut hadir pula para sesepuh adat Kasepuhan Girijaya, jajaran Baris Olot, tokoh adat, Camat Cidahu beserta jajaran Forkopimcam, Kepala Desa Girijaya, serta tamu undangan lainnya.
Pelestarian budaya Kasepuhan dan kawasan adat diharapkan dapat menjadi identitas dan jati diri bangsa. Selain itu, tradisi ini dapat terus dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya unggulan yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar.
(DD)


















