SUKABUMIANNEWS.ID – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Sukabumi kembali menjadi sorotan. Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Sukabumi, Punjul Saepul Hayat, mengungkapkan bahwa TPT di wilayahnya mencapai 8,19 persen per Agustus 2025—angka yang menempatkan Kota Sukabumi sebagai salah satu daerah dengan TPT tertinggi di Jawa Barat.

“Ini tantangan besar bagi kami. Angkanya lebih tinggi dibandingkan provinsi maupun nasional, sehingga perlu langkah serius untuk menurunkannya,” kata Punjul, Rabu (26/11/2025).
Data tahun 2024 menunjukkan jumlah pengangguran terbuka di Kota Sukabumi mencapai sekitar 14.543 orang. Mayoritas merupakan kelompok usia 18–24 tahun atau generasi Z. “Dari total sekitar 14 ribu penganggur, 8 ribu di antaranya berasal dari kelompok usia muda,” jelasnya.
Menurut Punjul, terdapat sejumlah faktor yang memicu tingginya angka pengangguran. Keterbatasan lahan menjadi hambatan utama dalam membuka investasi industri baru. Selain itu, masih terdapat ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha.
“Kota ini memiliki keterbatasan ruang untuk ekspansi industri. Ada regulasi lahan hijau, lahan pertanian, dan hal lain yang membatasi. Di sisi lain, kemampuan lulusan sekolah belum sepenuhnya sesuai kebutuhan pasar kerja,” terangnya.
Untuk mengurangi angka pengangguran, Pemkot Sukabumi melakukan beberapa langkah strategis. Di antaranya mengaktifkan kembali Balai Latihan Kerja (BLK) Cikundul sebagai pusat pelatihan vokasi, serta memberikan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi pekerja. Disnaker juga rutin menggelar job fair guna memperluas akses informasi lowongan.
Pada gelaran Career Day 2025 yang berlangsung di Politeknik Sukabumi pada Rabu (26/11/2025), sebanyak 16 perusahaan berpartisipasi dan membuka 56 jenis lowongan, dengan total sekitar 1.000 posisi pekerjaan.
“Hingga pagi tadi, sudah ada 1.660 pencaker yang mendaftar secara online. Belum termasuk yang daftar langsung di lokasi,” ujar Punjul.
Peserta job fair tidak hanya berasal dari Kota Sukabumi, tetapi juga dari berbagai daerah lain. Hal itu dimungkinkan berkat sistem pendaftaran digital yang diterapkan Disnaker.
Arinda (24), pencaker asal Selabintana, Kabupaten Sukabumi, menjadi salah satu peserta yang berharap mendapatkan peluang kerja. Ia melamar pada sektor perbankan dan ritel. “Baru daftar satu di Bank Mandiri, rencana tambah daftar di Alfamart juga,” katanya.
Ia mengaku persaingan mencari kerja semakin ketat. “Sekarang saingannya banyak. Dari media sosial kadang susah dapat info lowongan, lebih mudah kalau lewat teman,” ujarnya.
Hal serupa dirasakan Vivi (24), yang juga baru pertama kali mengikuti Career Day. Meski senang mendapatkan pengalaman baru, ia mengaku sempat kesulitan mendapat informasi mengenai jadwal kegiatan.
“Informasinya kurang tersebar. Saya baru tahu harus daftar online menjelang hari pelaksanaan. Ke depan semoga sosialisasinya diperbanyak,” harapnya.
Dengan tingginya angka pengangguran dan minimnya peluang kerja, Punjul menegaskan bahwa berbagai pihak harus berkolaborasi untuk menemukan solusi.
“Kami akan terus memperluas akses kesempatan kerja dan meningkatkan kompetensi tenaga kerja lokal agar bisa bersaing,” pungkasnya.
(DD)

















