SUKABUMIANNEWS.ID – Puluhan hektare persawahan di Desa Sasagaran, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, terancam tidak bisa dipanen setelah saluran Irigasi Onit di Kampung Selajambu, RT 04/RW 01, jebol akibat hantaman banjir bandang Sungai Cidadap dalam lima hari terakhir.

Kepala Desa Sasagaran, Deni Suwandi, mengungkapkan bahwa putusnya aliran irigasi membuat suplai air ke lahan pertanian terhenti total. Kondisi ini langsung memukul aktivitas petani yang tengah memasuki fase penting pertumbuhan padi.
“Dampaknya luar biasa. Dari sekitar 50 hektare sawah yang tidak mendapatkan air, setidaknya 15 hektare sudah dipastikan gagal panen. Kalau saluran tidak segera diperbaiki, seluruh 50 hektare berpotensi menyusul,” kata Deni, Rabu (26/11/2025).
Masalah tidak berhenti di sektor pertanian. Jebolnya irigasi juga membuat kolam-kolam ikan warga mengering. Ratusan ikan mati karena pasokan air terputus mendadak.
Menurut Deni, bagian irigasi yang rusak diperkirakan sepanjang 15 meter. Kerusakan berada pada jalur aliran yang menyalurkan air ke beberapa dusun, seperti Sasagaran, Cikaret, dan Cikawung.
“Air besar kemarin menghantam sisi irigasi hingga ambrol total. Limpasan dari arah kota masuk ke Sungai Cidadap dan langsung memutus dinding saluran,” jelasnya.
Secara ekonomi, kerugian petani diprediksi mencapai ratusan juta rupiah. “Jika seluruh lahan terdampak, total kerugiannya bisa mendekati satu miliar rupiah,” tambahnya.
Sebagai langkah darurat, pemerintah desa dan warga kini bergotong royong membangun tanggul sementara. “Saat ini kami tanggap bencana. Warga bersama pemerintah desa membuat penahan air darurat agar suplai tidak terhenti total,” ujar Deni.
Pemerintah desa sudah mengajukan permohonan bantuan bronjong ke dinas terkait, namun hingga berita ini diturunkan, bantuan belum diterima. “Sementara kami pakai bronjong seadanya. Desa menyediakan 20 unit, dan sekarang kami mencari batu untuk isian,” imbuhnya.
Deni menegaskan perlunya perbaikan permanen dari pemerintah daerah dan instansi teknis seperti BPBD serta Dinas Pertanian agar krisis irigasi tidak semakin meluas dan mengancam ketahanan pangan setempat.
Tokoh warga, Kosasih (62), turut menyampaikan kegelisahan para petani. “Mereka sangat resah. Tanpa air, sawah cepat kering. Kalau hujan tidak turun, gagal panen tinggal menunggu waktu,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selain sawah yang terancam, kolam ikan warga juga terdampak parah. “Banyak sekali ikan yang mati. Di kolam Yayasan La Jam saja, lebih dari seratus ikan patin siap panen mati karena air hilang,” katanya.
Warga bersama pemerintah desa kini melakukan kerja bakti membangun penahan air darurat menggunakan material seadanya. “Kami pakai bambu dan apa pun yang bisa dipakai. Ini solusi sementara sampai ada perbaikan dari pemerintah kabupaten,” tambah Kosasih.
Ia berharap pemerintah daerah segera turun ke lapangan untuk melihat kondisi sebenarnya. “Kerusakannya besar. Kami minta pemerintah datang langsung, jangan hanya dengar laporan,” tegasnya.
Kosasih menilai kerusakan irigasi yang dibiarkan berlarut justru bertentangan dengan upaya menjaga ketahanan pangan. “Air itu nyawa petani. Kalau irigasi rusak dan tidak diperbaiki, bagaimana kita mau bicara ketahanan pangan?” ujarnya.
Menurutnya, seluruh warga kini berharap penanganan cepat agar persoalan irigasi ini tidak berkembang menjadi krisis berkepanjangan dan tidak menambah angka gagal panen di Kabupaten Sukabumi. “Harapan kami, perbaikan segera dilakukan sebelum dampaknya semakin luas,” pungkasnya.
(DD)

















