banner 728x250

Waspada Campak di Sukabumi: 23 Kasus Terkonfirmasi, Dinkes Imbau Perketat PHBS Menjelang Arus Mudik

banner 120x600
banner 468x60

SUKABUMIANNEWS.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit campak. Berdasarkan hasil pemantauan aktif sejak akhir tahun 2025 hingga Maret 2026, tercatat sebanyak 23 kasus konfirmasi positif campak ditemukan di wilayah Kota Sukabumi.

banner 325x300

Kepala Dinkes Kota Sukabumi, Ida Halimah, menegaskan bahwa meski ditemukan puluhan kasus, situasi saat ini masih terkendali. Pihaknya menilai belum diperlukan penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB). Namun, langkah preventif tetap digencarkan guna memutus mata rantai penularan.

Hasil Uji Lab: 23 Positif dari 32 Suspek

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Sukabumi, Denna Yuliavina, merinci bahwa selama periode tersebut pihaknya mendeteksi 32 orang suspek (bergejala).

“Berdasarkan hasil uji laboratorium, 23 kasus dinyatakan positif campak. Indonesia sendiri menempati peringkat kedua tertinggi kasus campak setelah Yaman. Di Jawa Barat ada 9 daerah yang sudah menetapkan KLB, namun alhamdulillah Kota Sukabumi tidak. Trennya cenderung melandai di awal 2026 ini dan tidak ada kasus kematian,” jelas Denna saat diwawancarai, Senin (16/3/2026).

Risiko Kerumunan di Arus Mudik

Menjelang musim mudik Lebaran, Denna mengingatkan adanya potensi peningkatan risiko penularan akibat tingginya mobilitas massa. Kerumunan di tempat umum menjadi titik rawan penyebaran virus yang menyerang sistem pernapasan ini.

Dinkes mengimbau masyarakat untuk:

Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Tetap menggunakan masker di tengah kerumunan.

Menjaga jarak fisik jika memungkinkan.

Mengonsumsi makanan bergizi untuk memperkuat imunitas.

Pentingnya Imunisasi: 1,1 Persen Balita Masih Rentan

Meskipun capaian imunisasi dasar lengkap di Kota Sukabumi pada 2025 mencapai 98,9% (melebihi standar nasional), Denna menekankan bahwa sisa 1,1% balita yang belum tervaksinasi tetap menjadi perhatian serius.

“Artinya masih ada anak balita yang belum terlindungi. Hal ini bisa disebabkan faktor internal orang tua/pengasuh maupun kendala akses pelayanan. Kami sangat menekankan agar orang tua segera melengkapi imunisasi dasar anaknya,” tambahnya.

Sebagai penutup, Dinkes mengingatkan bahwa kombinasi antara lingkungan yang bersih, asupan gizi yang baik, dan kelengkapan imunisasi adalah kunci utama melindungi buah hati dari bahaya penyakit campak.

(DD)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *